SMK Negeri 38 mungkin sekolah terkecil untuk “pariwisata”. Kelas yang dimiliki 12, terdiri 4 lokal utk setiap kelas (X, XI,XII). Ruang kelas merangkap ruang serbaguna, ruang praktik boga/restoran kadang merangkap ruang belajar teori, perpustakaan kadang kala menjadi ruang teori. Bisa dibayangkan betapa “small”-nya SMKN 38. Namun hal tersebut tidaklah membuat kami menjadi patah semangat dalam mencerdaskan anak negeri ini. Hal tersebut menjadi tantangan yang indah untuk mewujudkan visi, misi dan motto yang kami miliki. Dan nilai positif yang dapat dipetik adalah :
1. dengan “rumah” yang kecil kami bisa saling mengenal, lebih akrab, baik guru dengan siswa, siswa dengan siswa, adik kelas dengan kakak kelas.
2. setiap siswa bisa terpantau kegiatan dan aktifitas selama di sekolah, sebab semua ruang tidak luput dari pemantauan dari para guru yang ada, baik yang sedang mengajar ataupun tidak. Coba bayangkan sekolah yang memiliki kelas > 20 dan gedungnya 3 or 4 lantai dengan jumlah siswa >500, bahkan sampai ribuan…apakah tiap siswa dapat perhatian satu per satu ? Apakah tiap siswa bisa saling mengenal ? Apakah tiap ruang bisa terpantau oleh guru yang ada ?
Sungguh rugi kalau kita sudah tidak diperhatikan oleh guru yang ada di sekolah. Bersyukurlah jika kita salah masih ada yang mau menegur dan mengingatkan, artinya kita masih diperhatikan. Coba kalau kita sudah “dicukein, masa bodoh”…